Body Shaming Dapat Menyebabkan Depresi

614 views
banner 468x60)

Putu Astika Surya Dewi (185120307111002), A. Psi. 2
Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
2018

Penulis : Putu Astika Surya Dewi (185120307111002), A. Psi. 2
Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
2018

Body Shaming Berujung Depresi
Memiliki tubuh yang ideal adalah idaman masyarakat generasi sekarang. Siapasih yang tidak ingin mempunyai badan ideal? Pasti kalian semua ingin mempunyai tubuh yang ideal dikarenakan memiliki badan yang ideal akan lebih percaya diri dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain di luar ruangan, selain itu jika kita ingin memakai pakaian pun kita sangat percaya diri menggunakan berbagai macam model.

Di era yang sudah modern ini banyak masyarakat yang menempuh cara ekstrem untuk mencapai tubuh yang ideal dan cenderung malah melukai atau mencederai diri sendiri dari berolahraga yang berlebihan, diet ketat, facial vampir, sedot lemak, sulam alis, tanam benang, filler bahkan operasi plastik pun dijalankan demi mendapatkan tubuh yang ideal. Padahal jika kita rajin berolahraga yang teratur dan menjaga makanan yang kita makan, itu sudah cukup untuk mendapatkan tubuh yang ideal.

Mengapa masyarakat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tubuh yang ideal? Karena masyarakat cenderung ingin mendapatkan tubuh yang ideal dengan cara yang instan.
Dalam pemikiran masyarakatpun sudah tertanam bahwa yang dikatakan cantik dan tampan memilki kriteria tertentu seperti bentuk muka yang tirus, mata yang lebar, hidung yang mancung, bibir yang seksi, alis yang tebal dan berbentuk, buah dada yang besar, bokong yang kencang dan lain lain. Standar ideal tersebut kemudian membentuk citra tubuh pada masyarakat, citra tubuh adalah persepsi diri terhadap dirinya sendiri di mata orang lain dan anggapan tentang diri sendiri untuk terlihat pantas di lingkungan sekitarnya.

Di zaman yang modern ini, banyak orang suka memberikan komentar atau judment kepada orang lain. Malah seringkali mereka memberikan penilaian mentah-mentah atau tidak memfilter apa yang akan diucapkannya seperti perilaku body shaming.

Dimana perilaku body shaming tersebut mampu menyebabkan dampak yang luar biasa bagi korbannya. Adapun ciri-ciri perilaku body shaming, diantaranya (Vargas, 2015): 1) Mengkritik penampilan sendiri, melalui penilaian atau perbandingan dengan orang lain (seperti: “Saya gendut dibandingkan dia.” “Lihatlah perutku buncit tidak seperti dia yang kempis.”) 2) Mengkritik penampilan orang lain di depan mereka, (seperti: “eh kamu kok jerawatan dan hitaman sekarang?.”) 3) Mengkritik penampilan orang lain tanpa sepengetahuan mereka. (seperti: “lihat deh dia sekarang kucel banget kayaknya dia gabisa merawat diri!”). Ketidakpuasan pada bentuk tubuh menjadikan banyak orang seringkali salah dalam menilai bentuk tubuhnya.

Ada beberapa dampak yang ditimbulkan jika seseorang mengalami body shaming seperti eating disorders yaitu gangguan psikologis dan medis yang menyebabkan kelainan serius dalam perilaku makan dengan tujuan mengendalikan berat badan atau sebagai suatu gangguan mental yang dapat mempengaruhi individu seperti anorexia nervosa yaitu mereka berpikir bahwa mereka terlalu gemuk sehingga diet terlalu ketat bahkan tidak makan apa-apa dan bulimia nervosa yaitu makan sebanyak-banyaknya dengan jangka waktu pendek, lalu memuntahkannya.

Selain itu individu akan merasa minder terhadap bentuk tubuh yang dimiliki, semakin tidak percaya diri (lack of self confidence) dan merasa tidak aman (insecure feeling), seseorang yang mengalami body shaming ini cenderung menjadi kehilangan kepercayaan diri karena merasa berbeda dengan yang lain, umumnya ia merasa tidak aman (insecure) karena menganggap akan sulit memiliki pasangan karena pada umumnya individu akan lebih tertarik pada seseorang yang memiliki bentuk tubuh proporsional dan berupaya untuk menjadi ideal (strive to be ideal).

Untuk menghadapi body shaming ada beberapa cara yang perlu dilakukan, yakni dengan mengubah gaya hidup yang selalu iri dengan orang lain yang memiliki tubuh yang proporsional, membuktikan kualitas diri pada orang lain, berusaha menerima kelebihan dan kekurangan pada diri, berpikir positif, dan menjauhi orang-orang yang sering melakukan body shaming.

Tetapi jika body shaming terjadi pada individu yang terlalu obses dengan bentuk tubuh yang ideal, dimana individu tersebut selalu merasa kurang dengan bentuk tubuhnya, selalu tidak berhasil dalam dietnya atau kegagalan yang berulang maka individu tersebut akan melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya maka hal ini akan berujung pada depresi.

Maka dalam hal ini saya akan menjelaskan tentang depresi. Apakah yang dimaksud depresi? Depresi adalah gangguan psikologis yang paling umum ditemui (Rosenhan & Seligman, 1989).

Depresi merupakan gangguan yang ditandai oleh kondisi emosi sedih dan muram serta terkait dengan gejala-gejala kognitif, fisik, dan interpersonal (APA, 1994). Nah dalam hal ini sangat erat kaitannya dengan neurosains yaitu ilmu tentang sistem saraf. Pada tahun 2008, menurut riset WHO peringkat depresi merupakan sebagai penyebab ketiga beban penyakit di seluruh dunia dan memprediksikan pada tahun 2030 akan menjadi peringkat pertama.

Menurut literatur psikologi dan psikiatri depresi dibedakan menjadi dua jenis depresi abnormal, yaitu depresi mayor dan depresi mania (APA, 1994). Pada depresi mayor, seseorang akan mengalami kesedihan yang mendalam, kehilangan gairah terhadap hal yang menyenangkan atau yang dulu disukai. Depresi mania adalah depresi mayor yang diselingi dengan periode-periode mania, yang ditandai dengan perasaan gembira, optimisme, dan gairah meluap-luap yang berlebihan. Dalam hal ini diketahui wanita lebih rentan terkena depresi dibandingkan pria puncaknya adalah pada umur 20-an.

Depresi dapat diukur menggunakan alat fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) dapat dilihat gambar berikut.

Gambar 1. Orang yang sedang melakukan perekaman otak untuk mengetahui aktivitas otak pada saat itu.

Gambar 2. Perbandingan rekaman otak pada saat depresi dan tidak depresi Perbandingan rekaman otak yang sedang mengalami depresi dan tidak depresi adalah saat seseorang mengalami depresi akan mengalami penurunan aktivitas otak dibagian tertentu yang mengatur konsentrasi, proses berpikir, mood, dan mengambil keputusan seperti pada gambar diatas. Dalam hal ini gejala gejala yang muncul pada penderita depresi, diantaranya adalah tidak bisa tidur, tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, kehilangan motivasi hidup, selalu merasa bersalah pada diri sendiri, dan yang terparah adalah keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Faktor psikososial yang dapat mempengaruhi depresi ini meliputi; peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kalpan, 2010). Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan depresi ini adalah dengan rileks sejenak, bercerita dengan teman dekat, melakukan hobi yang sangat kita suka, konsultasi pada psikiater, berpikir positif dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Jadi kesimpulannya adalah body shaming dapat menyebabkan depresi, yang mana depresi ini bisa membahayakan individu yang tidak bisa menghadapi tekanan-tekanan yang didapatkan dari lingkungan disekitarnya. Dalam artikel ini juga diketahui bahwa wanita lebih rentan terkena depresi dibandingkan pria. Dan disarankan jika kalian sudah mengalami gejala-gejala depresi, untuk segara berusaha mencari informasi lebih lanjut agar mengetahui konsep-konsep yang ada pada penderita depresi sehingga itu menjadi penanganan awal dan tidak berkelanjutan.

Referensi:
Aditomo, A. & Retnowati, S. (2004). Perfeksionisme, harga diri, dan kecenderungan depresi pada remaja akhir. Jurnal Psikologi, 1-14. Diakses dari https://jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7033/5485
Prameswari, A., & Tohir, M. (2018). Perancang kampanye cegah body shaming pada remaja perempuan. E-Proceeding or Art & Design, 5, 1796-1808. Diakses pada 29 Maret 2019.
Chairani, L. (2018). Body Shame dan gangguan makan kajian meta-analisis. Buletin Psikologi, 26(1), 12-27. doi:10.22146/buletinpsikologi.27084
Haryanto, Wahyuningsih, H., & Nandiroh, S. (2015). Sistem deteksi gangguan depresi pada anak-anak dan remaja. Jurnal Ilmiah Teknik Industri, 14. https://doi.org/10.23917/jiti.v14i2.998
Malhi, G. & Mann , J. (2018). Depression. The Lancet, 392, 2299-2312. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(18)31948-2
Mimi, S. A. (2018). “Ini bukan lelucon”:body shaming, citra tubuh, dampak dan cara mengatasinya. Jurnal Emik, 1(1). Diakses pada 29 Maret 2019.

 

Comments

comments

banner 468x60)
Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 468x60)