Harga Komoditi Perkebunan Bergantung Pasar Luar Negeri

banner 468x60)

KUALA TUNGKAL– Sungguh memprihatinkan, harga pinang di tingkat petani di Tanjabbar  kini kian anjlok. Posisi terakhir, dari Rp 10.500 per kilo saat ini turun drastis di posisi Rp 7.000 per kilo. Kondisi ini membuat petani pasrah dan berharap ada campur tangan pemerintah.

Seperti dituturkan, Salah satu petani di Sungai Gebar Kecamatan Kuala Betara, Yanto, semenjak bulan puasa harga jual buah pinang di kalangan petani terus menurun.” Biasanya memang harga pinang turun pas bulan puasa atau mendekati lebaran itu pun paling murah dihargai Rp 8.000 perkilo. Dan biasanya setelah habis lebaran harga pinang kembali normal di kisaran Rp 10.000 dan bisa naik sampai Rp 14 atau 15 ribu perkilo,” tegasnya.

Tahun ini kata dia, anjloknya harga pinang dikalangan petani dinilai luar biasa. Tidak mengalami kenaikan yang signifikan bahkan terus merosot.

Hal senada diungkapkan bujang salah satu petani pinang, anjloknya harga pinang di kalangan petani terparah terjadi pada tahun 2010. hampir seluruh petani putus asa. kondisi saat itu nyaris serupa dengan penurunan harga pinang yang terjadi saat ini.

Bedanya, harga jual saat itu masih sebanding dengan harga kebutuhan bahan pokok yang harus dipenuhi petani sehari hari. Sedang kini petani harus dibebankan dengan kebutuhan pokok yang sangat tinggi.” Penurunan harga pinang saat ini berbanding terbalik. Dengan naiknya harga kebutuhan bahan pokok yang terus melambung, untuk beli lauk telur ayam saja tidak cukup, yang enak tu pegawai, gajinya di tambah Terus. ” tukasnya.

Salah satu tengkulak yang enggan disebut namanya mengatakan, pembelian harga di kalangan petani terpaksa diturunkan dari harga normal. Pasalnya pihak tengkulak tidak mau menanggung kerugian. ” Toke ngambil harga murah, makanya kami juga tidak berani ambil harga mahal, paling kami berani ambil untung Rp 1.000 hingga Rp 2.000, malahan kadang bisa tekor, ” kata singkat.

Diketahui kian anjloknya harga komoditi perkebunan, dipengaruhi dengan permintaan pasar luar negeri. Hal ini membuat pemerintah tak bisa berbuat banyak.

Sebagaimana dikatakan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanjabbar Ir Melam Bangun.

Menurutnya, Harga komoditi ekspor seperti kelapa sawit (TBS), pinang, kelapa, kopi dan karet memang sulit dikendalikan. Pasalnya, harga tergantung permintaan ekspor.“ Bila permintaan tinggi di pasar luar negeri, maka harga bisa naik,” kata Melam.

Dikatakan Melam, harga TBS di pabrik sebagaimana yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 1.460 per kilogram. Hanya saja, harga ini berlaku untuk TBS berkualitas baik.

Sehingga, kata Melam, harga TBS di tingkat petani bisa naik bila dekat dengan pabrik. “ Seperti di wilayah Ulu, harga jual petani bisa diatas Rp 1000 per kilo, karena di sana banyak PKS. Sementara di wilayah ilir, betara tidak ada pabrik kelapa sawit,” jelas Melam.

Melam menyarankan, sebenarnya untuk mempertahankan harga jual TBS bisa saja dilakukan asal para petani sawit solid. Artinya, petani menjual hasil panennya langsung ke pabrik tanpa perantara.“Kebanyakan jual ke pengumpul, sehingga ada pemotongan-pemotongan harga,” ujarnya.

Bagaimana dengan komoditi lainnya? Melam menegaskan, harga jual karet diatur melalui Disperindag Provinsi. Itupun masih terjadi penurunan harga samahalnya dengan komiditi lainnya. Pinang, kelapa dan kopi, sama sekali tidak diatur harga jual di pasaran.“ Pinang, kelapa dan kopi itu tidak diatur harga standarnya oleh pemerintah. Pernah kita usulkan ke pusat, untuk dilakukan pemantauan harga tiga komoditi tersebut, namun tidak ditanggapi karena baru TBS yang dipantau mengingat banyak perusahaan Negara yang terlibat dalam perkebunan. Kalau harga TBS anjlok, tentu penerimaan Negara akan merosot,” Jelasnya.

Melam menambahkan, jika dibuat ketetapan harga di Kabupaten Tanjabbar, dikhawatirkan terjadi ketimpangan.“ Bisa ribut nanti. Kalaupun ditetapkan khusus pinang, kelapa dan kopi, bisa dilakukan skala provinsi. Itu bisa, tapi sulit untuk menyatukan petani kita ini,” tandas Melam.

Untuk diketahui, harga TBS di tingkat petani mengalami penurunan dari Rp 800 per kilo menjadi Rp 600 per kilo. Begitu juga dengan pinang, dari Rp 10.500 per kilo turun drastis menjadi Rp 8.000/ kilo.

Komoditi kopi juga anjlok dari Rp 40 ribu per kilo menjadi Rp 28 ribu per kilo. Kelapa juga turut anjlok, dari Rp 1.000 per butir menjadi Rp 800 per butir.(end)

Comments

comments

banner 468x60)
Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 468x60)