Mensos RI Targetkan Rumah SAD Dialiri Listrik

848 views
banner 468x60)

 

Jambi – Sedikitnya 23 rumah kepala keluarga (KK) Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Pulau Lintang, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, dan 18 KK SAD Desa Sialang, Kabupaten Merangin, Jambi kini dapat menikmati aliran listrik.

Energi yang berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (solar cell) tersebut memiliki daya sebesar 400 Volt Ampere. Alat yang dipasang di setiap rumah itu pun mampu bertahan hingga 10 tahun.”Listrik yang dihasilkan tidak akan membebani keluarga karena menggunakan cahaya matahari. Tidak perlu membayar setiap bulannya,” ungkap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat kunjungan kerja di Provinsi Jambi.

Ini merupakan kunjungan kedua Khofifah ke pemukiman Suku Anak Dalam di Desa Pulau Lintang dan Sialang. Kunjungan pertama, Kemensos di Pulau Lintang meresmikan pemukiman SAD tiga bulan lalu.

Khofifah yang didampingi Gubernur Jambi, Zumi Zola juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Balai Sosial di pemukiman SAD senilai Rp50 juta. Sebanyak 18 akte kelahiran anak juga diserahkan.

Khofifah menerangkan, Kementerian Sosial sendiri menargetkan sebanyak 500 rumah Suku Anak Dalam teraliri listrik dalam program “Terangi Suku Anak Dalam, Orang Rimba, dan Komunitas Adat Terpencil” yang diinisiasi musisi AKON bersama Yayasan Dwiyuna Jaya Foundation tersebut. “Satu unit solar cell ini senilai Rp8 juta. Selain penerangan, juga diberikan televisi, parabola, kipas angin, dan baterai lithium untuk balai serta filter air siap minum,” paparnya.

Tidak hanya itu, tambahnya, Kementerian Sosial juga membangunkan jalan sepanjang 1 kilometer senilai Rp200 juta guna mempermudah warga SAD mengakses perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Dipilihnya Suku Anak Dalam, Orang Rimba, dan Komunitas Adat Terpencil, lanjut Khofifah karena wilayah tempat tinggal mereka memiliki akses yang sangat terbatas. Jangankan listrik dan sinyal, akses jalan menuju wilayah desa terdekat dari permukiman mereka pun sangat sulit karena umumnya adalah jalan setapak yang terjal, berbatu, dan berlumpur. “Dalam kunjungan pertama, ada warga SAD yang meminta untuk diberikan penerangan listrik. Oleh karena itu saya langsung mengupayakannya, namun tetap memperhitungkan kemampuan SAD dan faktor lainnya,” ujarnya.

“Kalau PLN narik kabel sampai ke wilayah mereka berapa investasi yang harus dikeluarkan. Belum lagi biaya bulanan yang harus dibayarkan setiap kepala keluarga tiap bulannya. Sudah pasti butuh ongkos yang besar,” tambahnya.

Menurut Khofifah, apa yang dilakukan Kemensos sejalan dengan program percepatan elektrifikasi desa yang tengah digencarkan pemerintah. Selama ini, kata Khofifah, warga SAD hidup tanpa listrik. Selain itu, mereka hidup selalu berpindah-pindah (nomaden) dari kawasan yang satu ke kawasan yang lain untuk bertahan hidup. “Saya berharap masuknya listrik ke pemukiman mampu meningkatkan kesejahteraan warga SAD. Utamanya bagi anak sekolah yang bisa memanfaatkannya untuk belajar di malam hari,” imbuhnya.

Laporan Wartawan Provinsi Jambi (Syah)

Comments

comments

banner 468x60)
Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 468x60)