Nobar Perdana Film Dokumenter ASIMETRIS di Kota Jambi Berlangsung Ala Layar Tancap 

banner 468x60)

JAMBI – Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jambi bersama Perkumpulan Hijau (PH), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jambi, Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Jambi, dam Forum Film Jambi bentangkan layar tancap. Hal ini dilakukan dalam rangka nonton bersama perdana film Dokumenter ASIMETRIS, yang pada waktu bersamaan juga dilakukan di 25 tempat lainnya se-Indonesia.

Di Kota Jambi, nonton bersama berlangsung di di The Tempoa Jelutung, tepatnya di Jalan Tempoa II, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, sekitar pukul 19:00 WIB malam. Sekitar kurang lebih 70 penonton dari berbagai kalangan, mayoritas adalah warga Kota Jambi, berkumpul di Galery Poto milik The Tempoa yang sekejap disulap layaknya tater bioskop lesehan.

Sebelum film ASIMETRIS diputar, penonton terlebih dulu disuguhkan dengan pembacaan puisi oleh seorang sastrawan Jambi. Puluhan penonton pun dibuat terpukau, dan sebagian merinding mendengar setiap bait puisi tentang kerusakan lingkungan yang dibacakannya. Direktur Perkumpulan Hijau, Feri Irawan mengatakan, bahwa pemutaran film ini bertujuan untuk mengajak semua kalangan masyarakat bisa mengetahui fakta yang selama ini terjadi.

Selain nonton film juga ada sesi diskusi, dalam kesempatan dan tempat yang sama, penonton juga mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat soal pesan yang ditangkap dari film, bertukar pikiran, serta berbagi pengalaman. “Apa yang kita sampaikan selama ini, bisa kita tampilkan dalam sebuah film yang akan kita tonton bersama,” ujar Feri beberapa menit sebelum pemutaran film dimulai.

Singkat cerita, film tersebut mengulas bagaimana sektor perkebunan kelapa sawit penyumbang terbesar kerusakan lingkungan, selain itu di sektor perkebunan kelapa sawit juga kerap terjadi konflik, pelanggaran HAM, dan sebagainya. Ternyata, perkebunan kelapa sawit tidak bisa menjamin terpenuhnya kebutuhan masyarakat.

Bahkan, dalam film ini ditayangkan wawancara petani kelapa sawit yang setiap kali panen selalu mengalami kerugian, sehingga hutang di toko semakin bertambah dari musim panen ke musim panen berikutnya.

Kemudian dua pulau di Indonesia, Sumatra dan Kalimantan, menjadi fokus lensa kamera para sineas Watch Doc Ekspedisi Indonesia Biru dalam membuat film ini.

Karena dua pulau ini memang memiliki sejarah kelam tentang kerusakan ekologi, yaitu bencana kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan 2015 silam. Direktur WALHI Jambi, Rudiansyah menangkap beberapa pesan penting yang ditonjolkan dalam film besutan mantan jurnalis harian Kompas Dandy Laksono tersebut. Ia melihat, ASIMETRIS mengangkat persoalan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perusahaan ekstraktif, seperti perkebunan kelapa sawit.

Dalam film yang berdurasi satu jam delapan menit tersebut, dijelaskan bagaimana kepulan asap tebal yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan pada 2015 lalu, membuat semua kalangan masyarakat mengalami dampaknya, mulai dari balita hingga orang dewasa, jutaan manusia terpapar asap, bahkan juga merenggut korban jiwa.“Pesan yang diangkat dari film ini yaitu dari eksploitasi sumber daya alam. Dan itu kan bisa kita lihat misalnya sector pertama yang ditonjolkan dalam film ini, bagaimana perkebunan kelapa sawit penyumbang terbesar terjadinya bencana ekologis, yaitu kebakaran hutan dan lahan,” kata Rudi.

Biaya yang dikeluarkan oleh Negara untuk melakukan perbaikan atau pemulihan terhadap areal yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan, lanjut Rudi, tidak sebanding jika dihitung dengan pendapatan Negara dari perusahaan perkebunan kelapa sawit. Artinya biaya untuk pemulihan terhadap kebakaran hutan itu cukup tinggi dibandingkan pendapatan Negara pada industry perkebunan kelapa sawit.“Nah, film ini cukup menarik memotret bagaimana melihat dari sisi persoalan kebutuhan ekonomi rakyat itu tidak bisa hanya dilihat dari sisi sawit saja. Namun bagaimana mereka juga bisa mempertahankan nilai kearifan lokal, memperjuangkan model-model dan potensi yang ada selama ini, untuk melihat eksistensi bahwasanya rakyat itu mampu melawan kerusakan dari industri ekstraktif,” pungkasnya.

Sementara, beberapa orang penonton juga menangkap pesan yang sama dengan yang disampaikan diatas. Salah satu penonton dari kalangan mahasiswa mengatakan, bahwa setelah menonton film ASIMETRIS dirinya bisa mengetahui persoalan yang di hadapi oleh para petani. Ada juga yang berharap kedepan pemerintah terjun langsung melihat kondisi para petani di Indonesia pada umumnya, terkusus untu petani kelapa sawit, agar pemerintah bisa mengetahui secara langsung persoalan dan kendala yang dihadapi petani kecil.

Laporan Wartawan Provinsi Jambi (Syah).

Comments

comments

banner 468x60)
Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 468x60)