Gabah Petani di Tanjabtim Hanya Dihargai Rp 6.800 per Kg

1252 views

img-20161129-wa0006MUARASABAK-Petani di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), sangat kecewa terhadap bulog pasalnya, harga gabah petani dibeli Bulog hanya Rp 6.800 perkilonya. Dan dengan harga yang telah ditetapkan bulog tersebut, petani menganggap dalam hal ini bulog tidak memikirkan kesejahtraan petani.

Padahal sebelumnya, Pemerintah telah menetapkan harga gabah yang harus dibeli bulog itu seharga Rp 7.300 perkilo. Hal itu dikatakan, Usep selaku PPL Desa Simpang Datuk, Kecamatan Nipah Panjang.”Alasan Bulog karena ada beban biaya transportasi, alasan ini yang sangat tidak bisa diterima oleh petani,”bebernya

Lanjutnya, dengan murahnya harga jual gabah beras petani kebulog, membuat petani mengeluh karena biaya yang dikeluarkan petani tidak sesuai dengan yang diperoleh dan hal itu sangat dihawatirkan petani padi beralih fungsi keperkebunan. ” Padahal lahan pertanian untuk di Desa Simpang Datuk saja seluas 755 hektar, menghasilkan produksi gabah beras 5000 ton dalam sekali panen, “ucapnya.

Menanggapi hal itu, Bupati Tanjabtim, Romi Haryanto mengatakan, untuk mendongkrak nilai jual harga gabah beras petani yang ada di Tanjabtim, dirinya telah membuat kebijakan, semua PNS lingkup Pemkab Tanjabtim, wajib membeli beras hasil pertani an petani Tanjabtim. “Memang kebijakan ini mungkin belum berdampak secara signifikan kepetani. Namun upaya yang kita lakukan ini untuk meningkatkan kesejahtraan petani yang ada. Apalagi, melalui kebijakan kita itu, harga beli beras itu diatas harga pembelian bulog dan rata-rata beras yang tersalurkan ke PNS perbulanya sebanyak enam ton,”kata Bupati.

Dikatakanya lagi, mengenai harga yang ditetapkan bulog tersebut, dirinya belum dapat berkomentar, pasalnya Pemkab belum melakukan komunikasi dengan pihak bulog. “Kalau soal itu (red_masih rendahnya nilai beli Bulog) kami belum bisa jawab. Tapi yang jelas kami pemerintah daerah telah membuat kebijakan untuk merangsang petani untuk terus mengebangkan pertanian mereka,”jelasnya. (Hen)

Comments

comments

Penulis: 
    author

    Posting Terkait