Rakyatjambi.co | Tanjabtim — Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) kian mencuri perhatian di kancah internasional. Potensi besar sektor perkebunan kelapa di daerah pesisir Provinsi Jambi ini mulai dilirik investor Eropa, membuka jalan menuju industrialisasi dan hilirisasi berskala global.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Tanjabtim, Riqo Yudawirja S.Hut, mengungkapkan bahwa momentum ini tidak lepas dari kerja kolaboratif antara tim ahli nasional dan jaringan investor luar negeri yang terhubung melalui program strategis pemerintah pusat.
Menurut Riqo, keterlibatan Tim Expert ROEKI bersama Satuan Tugas Perencanaan dan Percepatan Hilirisasi Tanaman Kelapa dari Kementerian PPN/Bappenas menjadi penggerak utama transformasi industri kelapa di Tanjabtim. Program ini juga terkoneksi dengan BRIN serta Kantor Staf Presiden, sehingga memperkuat posisi daerah dalam peta pengembangan komoditas strategis nasional.
“ROEKI memiliki tujuh fokus program yang terintegrasi hingga ke pusat. Ini kekuatan besar untuk mendorong Tanjabtim menjadi pusat industri kelapa dunia,” ungkap Riqo ketika dikonfirmasi Rakyatjambi.co (14/4/2026).
Secara nasional, Tanjabtim saat ini tercatat sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Indonesia, bahkan menempati peringkat ketiga. Potensi tersebut dinilai belum tergarap maksimal, sehingga hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing global.
Keseriusan investor pun mulai terlihat nyata. Investor asal Jerman, Phillip Wallat, melakukan kunjungan lapangan sekaligus riset langsung dengan tinggal bersama petani kelapa di Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi. Langkah ini menunjukkan pendekatan berbasis pemahaman sosial dan produksi di tingkat akar rumput.
Selain itu, investor asal Belgia, Marc Van Dael, juga menjajaki pengembangan industri kelapa terpadu. Didampingi Galih Barata dari Yayasan Roemah Kelapa Indonesia, kunjungan tersebut difokuskan pada pengenalan teknologi pengolahan produk turunan kelapa serta peluang investasi dari hulu hingga hilir.
Marc bahkan turun langsung ke sejumlah lokasi potensial, termasuk Desa Alang-Alang, Kecamatan Sabak Timur. Pihak Belgia disebut memiliki kapasitas bisnis hingga 1.000 kontainer per tahun, membuka peluang ekspor skala besar.
“Sabut kelapa saja bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi. Yang dibutuhkan sekarang adalah transfer teknologi, kawasan industri, dan dukungan berkelanjutan,” kata Riqo.
Pemerintah daerah pun tengah menyiapkan langkah besar berupa pembangunan kawasan industri kelapa terintegrasi dengan pelabuhan samudra. Skema investasi disebut sepenuhnya akan ditanggung oleh investor, sementara Pemkab Tanjabtim fokus pada penyediaan lahan, perizinan, serta penguatan regulasi dan sinergi jangka panjang.”Sekarang atau tidak sama sekali. Ini peluang emas bagi Tanjabtim untuk naik kelas,” tegasnya.
Masuknya investor asing ini juga tidak terlepas dari peran aktif Yayasan Roemah Kelapa Indonesia yang dinilai memiliki jaringan luas dan pengaruh signifikan dalam mendorong hilirisasi kelapa nasional.
Sebelumnya, pada tahun 2025, Pemkab Tanjabtim juga berhasil menarik investasi di sektor kelapa sawit senilai Rp460 miliar. Investasi tersebut mencakup pembangunan pabrik di Simpang Kiri sebesar Rp250 miliar dan di Parit Culum senilai Rp210 miliar.
Dengan geliat investasi yang terus meningkat, Tanjabtim diharapkan mampu menjelma menjadi pusat industri kelapa terintegrasi, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga sebagai pemain baru di pasar global.
Dampaknya diharapkan mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (Rudi)






